Kamis, 06 November 2008

RASA AMAN MASIH "BARANG MAHAL" BAGI WARGA DKI

Ketakutan dan selalu ada rasa khawatir pada diri warga Jakarta ternyata bukan isapan jempol belaka. Bagi sebagian besar warga Jakarta, keamanan masih menjadi barang mahal. Ini terbukti dengan masih tingginya tingkat kriminalitas yang dilaporkan masyarakat ke Polda Metro Jaya.
Kita bisa membayangkan betapa tidak amannya Ibu Kota ini. Lihat saja, dalam tempo 8 menit 6 detik di Jakarta selalu terjadi satu tindak kriminalitas.
Ungkapan ini mungkin bisa menjadi lain kalau yang mengungkapkan hanya seorang tukang bajaj atau sopir bus kota. Namun ini yang mengatakannya adalah orang pertama di Polda Metro Jaya, Irjen Pol Adang Firman. "Angka ini meningkat dibandingkan tahun 2005 yang hanya mencapai 58.027 kejadian. Peningkatannya 5,3 persen," katanya.
Yang lebih mencengangkan, Kapolda Metro mengatakan bahwa kenaikan angka kejahatan itu dinilai masih dalam batas toleransi, karena berada di bawah angka 11 persen. Namun, yang dibutuhkan masyarakat sebenarnya bukan jumlah kenaikan angka kejahatan yang masih di bawah 11 persen, tetapi bagaimana warga Jakarta bisa menjalankan aktivitas di Ibu Kota dengan tenang.
Apalagi bagi warga kota yang setiap aktivitas kesehariannya harus menggunakan kendaraan bermotor, baik sepeda motor maupun mobil. Karena, ternyata kejahatan yang paling tinggi terjadi pada pencurian kendaraan bermotor (curanmor) 11.257 kasus.
Sepintar apapun masyarakat melengkapi kendaraan mereka dengan kunci ganda atau alarm, ternyata tetap saja bisa menjadi santapan empuk para "pemetik" kendaraan bermotor. Para pencoleng ini dengan entengnya mampu mengakali semuanya dan dalam tempo kurang dari lima menit pemilik kendaraan yang sedang naas akan kehilangan kendaraannya.
Peringkat kedua tindak kejahatan di Jakarta, diakui Kapolda, diduduki pencurian dengan pemberatan (curat), mencapai 8.100 kasus. Kasus ini memang agak susah-susah gampang dalam penanganannya, karena selalu saja polisi kalah cepat dibanding pelaku. Polisi hanya tinggal olah tempat kejadian perkara (TKP) setelah menerima laporan.
Sedangkan posisi ketiga direbut kejahatan narkoba yang mencapai 6.613 kasus "Untuk kejahatan narkoba, peningkatannya sangat tinggi dibandingkan dengan tahun 2005. Di tahun 2005 hanya terjadi 4.394 kasus. Ini berarti terjadi peningkatan sekitar 50,5 persen," kata Adang.
Kasus narkoba yang paling menyita perhatian publik adalah tewasnya penyanyi Alda Risma di kamar 432 Hotel Grand Menteng, Jakarta Timur, belum lama ini. Yang lebih menghebohkan, kasus ini bukan hanya ditangani polres, namun melibatkan hampir semua pihak. Mulai dari polsek hingga Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Mabes Polri, ikut disibukkan dengan tewasnya pelantun lagu "Aku Tak Biasa" itu.
Bukan cuma itu, untuk mengungkap siapa di balik aksi ini, FBI (Biro Investigasi Federal) dan badan narkotika negara tetangga ikut menelitinya. Keterlibatan FBI, diakui oleh Kepala Satuan Tugas BNN Brigjen Pol Hendardi Tanos, khusus untuk meneliti hasil rekaman CCTV hotel yang tidak terlalu jelas.
Ada catatan kasus menonjol pada tahun 2006 ini, di antaranya peledakan Restoran A&W di Kramat Jati Indah Plaza, Jaktim, pada 11 November lalu. Juga pembunuhan dengan mutilasi atas korban Sumini, yang terjadi pada 10 Agustus lalu di Jalan Perjuangan, Bekasi Utara.
Kasus perampokan terhadap mobil PT Trans Nasional di Taman Simanjuntak, Cipinang Cempedak, Jatinegara, Jaktim, pada 18 Januari. Juga pencurian dengan kekerasan terhadap uang ATM BCA sebesar Rp 2,9 miliar pada 9 Oktober.
"Kami juga mencatat adanya 24 kasus unjuk rasa anarkis dari 812 unjuk rasa. Yang paling menonjol adalah unjuk rasa di depan gedung DPR pada 3 Mei 2006 lalu.
Soal kasus Alda, memang semuanya masih dalam taraf penyidikan dan penyelidikan aparat kepolisian. Tetapi, setidaknya kasus ini adalah kasus yang benar-benar tidak biasa, meskipun Alda terkenal oleh lagunya yang berjudul "Aku Tak Biasa".
Tingginya angka kriminalitas di Jakarta, menurut Adang Firman, sedikit banyak ada kecenderungan naiknya partisipasi masyarakat. Warga Jakarta makin peduli terhadap keamanan. Karena itu, tak salah kalau orang nomor satu di jajaran Polda Metro Jaya ini menyampaikan penghargaan tertinggi kepada masyarakat.
Lebih lanjut Adang menambahkan, pihaknya terus bekerja sama dengan masyarakat untuk memberantas peredaran narkoba. "Sudah dibentuk pos-pos di wilayah yang rawan kejahatan narkoba agar masyarakat dapat melaporkan jika ada peredaran narkoba di daerah tersebut," katanya.
Selain itu, tingginya tingkat kejahatan di Jakarta tidak bisa selamanya dipersalahkan kepada Polda Metro Jaya. Banyak juga program kerja korp berbaju cokelat muda ini mampu membuat masyarakat tersenyum.
Sebagai contoh, sikap tegas aparat kepolisian dalam menangani lalu lintas. Meski jumlah kecelakaan lalu lintas mengalami peningkatan, pada tahun 2005 terjadi sebanyak 4.156 kasus, tapi pada tahun 2006 naik menjadi 4.407 kasus atau mengalami peningkatan 6,03 persen, toh jumlah korban tewas turun 0,89 persen dan jumlah korban luka berat turun 1,24 persen.
Kebijakan Kepala Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Pol Djoko Susilo, yang mulai menerapkan lajur kiri khusus untuk pengendara sepeda motor, diharapkan juga bisa mengurangi angka kecelakaan lalu lintas, terutama korban kecelakaan sepeda motor. Karena, dari 4.407 kasus kecelakaan lalu lintas, 3.000 di antaranya dialami sepeda motor.
Sikap tegas yang ditunjukkan Kapolda Metro Jaya dalam hal lalu lintas ini, diakui atau tidak, bisa mengurangi sepeda motor sebagai algojo yang menjadi pembunuh warga kota nomor pertama.
Ini mungkin bisa menggiring nama besar Polda Metro Jaya menjadi tidak populer di mata masyarakat. Apalagi keputusan ini berlawanan dengan keseharian yang selama ini dilakukan warga kota.
Warga kota selama ini dininabobokkan dengan enaknya mengendarai sepeda motor di jalur kanan. Padahal, apa yang dilakukan jelas sangat berisiko terhadap keselamatan jiwa mereka sendiri. (Sadono Priyo)

Tidak ada komentar: