Minggu, 09 November 2008

BELAJAR DARI KRISIS, INDONESIA BISA BANGKIT


JAKARTA (DONNEWS) - Indonesia diyakini bisa bangkit dari krisis. Buruknya situasi Amerika Serikat (AS) akan dihadapi bangsa ini dengan bekal pengalaman sama pada 1998.

Di tengah kelesuan dalam berbagai sektor dan sebelumnya pernah didera ancaman disintegrasi bangsa, negeri ini akan bergerak maju sebagaimana sejarah pernah mencatat, Nusantara pernah mengalami masa kejayaan di masa lampau.

"Bangkit dari krisis memang bukan suatu keniscayaan, namun dulu Indonesia pernah mengalami masa-masa kejayaan. Ini menjadi optimsme tersendiri," kata sejarawan Dr Asvi Warman Adam dalam diskusi dan bedah buku berjudul "Jala Sutra Menuju Indonesia Raya", di Ancol, Jakarta, Sabtu (8/11).

Ikut membedah buku yang ditulis Hans Satyabudi tersebut di antaranya pengamat telematika Roy Suryo.

Asvi Warman menyebutkan, buku setebal 274 halaman dengan pendekatan sejarah dan penuh perumpamaan itu sebetulnya bertolak dari tujuan ideal yang ingin dicapai Indonesia.

Menurut dia, uraiannya menggunakan angka-angka yang sebetulnya juga tidak asing dalam pemikiran Jawa. Angka bisa dikaitkan dengan konsep bahkan tanggal sejarah.

"Dalam buku Jala Sutra disebutkan tahun 2008, 2017 dan 2045. Tahun 2008 wacana ini dicanangkan, 2017 tahun pencapaian desa yang lestari, pantai yang permai dan Indonesia makmur. Lalu 2045 Indonesia Raya, Nusantara, posisi kita pada tatanan dunia baru, globalisasi, duniabaru yang damai," kata staf pengajar Universitas Indonesia itu.

Ia menyebutkan, pemilihan angka tahun itu berdasarkan tahun kemerdekaan 8, 17 dan 45 yang ditambah dengan angka 2000.Lebih lanjut dalam buku ini penulis mencoba menghubungkan dengan legenda seorang raja yang bertapa di hutan.

Sang permasisuri dengan setia menanti sambil merajut benang sutra menjadi jala. Dalam tapanya raja itu harus pergi melanglang buana. Setelah kembali ke kerajaannya ia tidak pergi ke istana namun memilih tinggal di pinggir laut dan menjadi nelayan dengan menggunakan jala sutra yang dibuat isterinya.

Sang raja meninggalkan kemewahan, pergi berkelana mencari ilmu dan segala sesuatu yang baik bagi negeri dan bangsanya. Raja menemukan intisari kehidupan bahwa tugas utamanya adalah memanfaatkan lautan sebagai potensi alam yang besar untuk menyejahterakan rakyat.

Sang raja turun ke laut memberi contoh kepada rakyatnya untuk menangkap ikan dan jala. Yang perlu diteladani dari sang permaisuri adalah keteladannanya menggunakan apa yang di sekitarnya.

Ia menjalin benang sutra menjadi jala yang dapat dimanfaatkan menangguk apa yang di lautan. Segenap komponen keluarga, masyarakat dan bangsa berperan dalam menciptakan sinergi memajukan bangsa. (Sadono)

Tidak ada komentar: