Minggu, 02 November 2008

MEDIA MASSA MEMBERI INSPIRASI BAGI PELAKU


Kasus mayat dipotong-potong atau mutilasi (mutilate) yang terjadi akhir-akhir ini, membuat hati kebanyakan orang miris. Belum habis kita dibuat kaget oleh peristiwa mutilasi dengan korban Heri Santoso yang dilakukan Verry Idham Henyansyah alias Ryan, tiba-tiba masyarakat kembali digemparkan oleh kasus serupa yang ditemukan di Bus Mayasari Bakti P-64, Senin (29/9).
Pada bus jurusan Kalideres-Pulogadung Km 18 Cakung, Jakarta Timur (Jaktim), itu ditemukan seonggok tubuh manusia yang sudah dipotong-potong menjadi 13 bagian. Yang lebih menakutkan, dalam bungkusan tersebut tak ditemukan kepala, jari tangan, dubur dan bagian organ yang lain.
Di tengah penyelidikan kasus mayat di Cakung yang cukup memakan waktu (karena polisi kesulitan mengetahui identitas korban), terjadi kasus mutilasi lagi di Cibinong, Bogor, Jawa Barat (Jabar). Mayat wanita hamil ditemukan di semak-semak dalam keadaan kedua tanganya terpotong.
Pada ketiga kasus mutilasi tersebut, polisi akhirnya menangkap tiga tersangka pelakunya. Yang menarik, para tersangka itu ternyata orang dekat dari korban. Ryan membunuh pasangan gay-nya Heri Santoso, karena mau merebut pacarnya Noval.
Pada kasus di Cakung, Yati membunuh suaminya Hendra karena sering disakiti. Sedangkan di Cibinong, tersangka Entong merasa terhina karena isterinya, Atika, sering menjelek-jelekan dirinya.
Tentunya dari ketiga aksi perbuatan kejam itu cukup mengganggu nilai-nilai kemanusian kita sebagai bangsa yang beradab. Itu karenanya, timbul pertanyaan, apa latar belakang orang yang berperilaku seperti itu? Bagaimana tinjauan dari sudut pandang psikologi ?
Berikut ini wawancara wartawan Suara Karya B Sadono Priyo dengan Guru Besar pada Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) Prof Dr Sarlito Wirawan Sarwono atau lebih akrap dipanggil Prof Ito. Bagaimana Prof Ito melihat berbagai kasus mutilasi akhir-akhir ini ?

Sebenarnya kasus mutilasi telah banyak terjadi di Indonesia. Jauh sebelum kasus Ryan, di Jakarta pernah gempar dengan kasus mayat potong tujuh pada tahun 1980-an. Juga pada kerusuhan antaretnis di Kalimantan, Maluku, dan Poso, sering kali dijumpai kasus mutilasi.
Kalau dikatakan ngetrend, saya kurang setuju. Kasus-kasus yang ditemukan akhir-akhir ini sifatnya kasuistis. Artinya harus dilihat kasus per kasus.
Yang terjadi sekarang kebanyakan dipicu oleh media massa. Pelakunya nonton televisi dan membaca koran yang kemudian berpengaruh pada pola pikirnya untuk melakukan kejahatan seperti itu. Dengan kata lain, pelaku meniru peristiwa sebelumnya yang dilakukan oleh pelaku lain.

Kebanyakan kasus mutilasi dilatarbelakangi kebencian dan sakit hati yang berlebihan. Dan yang menarik banyak pelakunya yang menderita penyimpangan seks. Bagaimana Anda melihatnya ?

Bisa jadi orang itu melakukan mutilasi karena dilanda kebencian yang berlebihan. Terjadi ledakan kemarahan karena ia merasa terhina atau cemburu. Kasus-kasus seperti itu biasanya berlangsung secara spontan dan tidak terorganisasi.
Pada kasus-kasus tertentu, saya sepakat pelaku mutilasi dilakukan oleh orang dekat atau pernah dekat. Kasus Ryan ini memang menarik, dan menjadi bagian dari penelitian saya. Ryan dianggap mempunyai perilaku seks menyimpang. Biasanya pria homoseksual memiliki kecenderungan melakukan kekerasan dahsyat. Kecenderungan ini terkait dengan sifat lebih posesif yang dimiliki gay atau laki-laki homoseksual.
Ledakan kejiwaan juga cenderung lebih keras karena sifat percintaannya yang biasanya mencintai untuk menguasai dengan pendekatan. Dengan kata lain, dalam kasus-kasus perebutan, perselingkuhan, dan pertengkaran asmara, kaum homoseks umumnya berprinsip, 'kalau saya tidak dapat, maka kamu pun tidak akan mendapat dia'. Interaksi berlangsung agresif, saling menghancurkan!

Apakah pelaku mutilasi bisa disebut psikopat (sakit jiwa)?

Untuk menggolongkan orang itu psikopat, banyak kriterianya. Saya belum bisa menyebut pelaku itu psikopat sebelum melakukan penelitian. Orang psikopat cenderung merasakan kenikmatan dan kenyamanan serta kesenangan ketika menyaksikan kesakitan, penderitaan dari orang lain yang diakibatkan oleh perbuatan yang ditimbulkan.
Faktor lain yang melekat pada suatu diri psikopat adalah faktor afektif atau interpersonal dan faktor gaya hidup sosial yang menyimpang. Selain itu untuk menyebut apakah orang itu menderita psikopat atau tidak, banyak hal, seperti orang itu merasa tidak bersalah (berdosa), tidak menyesali perbuatannya dan masih banyak fator lain.

Apakah fenomena mutilasi ini bisa dihentikan?

Di Indonesia, kasus mutilasi saya kira belum sampai pada tahapan kelompok mafia. Di luar negeri ada semacam kelompok kejahatan terorganisasi yang ingin menunjukkan kekuatan dan peringatan kepada pesaing atau pun anggotanya.
Contohnya, mutilasi dilakukan untuk memberikan semacam teguran kepada anggota yang berkhianat atau kepada lawan. Mutilasi masih dianggap sebagai cara untuk bisa membunuh tanpa diketahui pihak kepolisian. Kalau pun berhasil teridentifikasi, akan memerlukan waktu yang lama.
Seperti yang sudah diungkapkan, peran media massa besar sekali. Munculnya mutilasi dikarenakan efek peniruan tadi (imitation effect). Hal ini bisa dihindari dengan pengontrolan media, karena pemberitaan media massa turut mengajarkan pelaku baru untuk dapat belajar dari kesalahan menghilngkan jejak. ****

Tidak ada komentar: