Jumat, 14 November 2008

AWAS, KEJAHATAN DI TAKSI INCAR KARYAWATI DAN IBU-IBU



Para pengguna jasa taksi kini perlu ekstra hati-hati. Pasalnya, kejahatan di dalam taksi, khususnya di wilayah Jabotabek, marak lagi. Setelah beberapa bulan mereda, masyarakat kembali dikejutkan oleh kasus perampokan yang melibatkan sopir taksi.

Dua kasus kejahatan di dalam taksi menghiasi berita di sejumlah harian Ibu Kota. Kasus pertama dialami Ade Sulistina (29) dan Hilda Karmila (26). Dua karyawati itu menderita depresi dan harus dirawat di RS Pertamina Pusat, Jakarta, setelah dirampok di taksi.
Kedua perempuan itu naik taksi sekitar pukul 20.00 WIB Senin pekan lalu seusai berbelanja di Carrefour Ratu Plasa. Ia mendapat taksi dari calo yang kebetulan mangkal di pusat perbelanjaan tersebut.
Mereka mendapat taksi warna biru dalam kondisi bagus. Karena barang belanjaan banyak, Ade dan Hilda tidak bisa menolak ketika taksi sudah berada di depannya. Keduanya sempat melihat identitas nama di dashbord dan kaca taksinya gelap.

Sopir taksi langsung tancap gas begitu dua perempuan itu menyebutkan hendak ke Jalan Hang Jebat, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Sesampainya di dekat Hotel Century Park, Senayan, tiba-tiba sopir menghentikan taksi dengan alasan lampu mobil mati.

Sopir taksi pun turun dan pura-pura memeriksa bagian depan mobil. Tak disangka-sangka dia kembali dengan membawa pisau. Ia minta kedua penumpangnya tidak berteriak. Saat itu juga dua laki-laki lain masuk ke dalam taksi. Satu orang duduk di kursi kemudi dan satu lagi duduk di sebelah kiri kursi belakang. Ade sempat hendak teriak, namun dipukul lehernya oleh sopir taksi itu.

Taksi meluncur ke jalan tol dan menuju arah Tanjung Priok. Taksi berhenti di jalan tol sebelum Tanjung Priok. Saat itulah semua perhiasan dan HP mereka dipreteli. Tak lama kemudian masuk satu orang lagi dan duduk di samping sopir. Orang ini mengikuti taksi itu dengan mobil yang lain.
Mereka lalu meminta Ade dan Hilda menyerahkan kartu ATM, kartu kredit, dan nomor PIN-nya. Karena ketakutan, ATM dan kartu kredit keduanya diserahkan ke rekan perampok yang menunggu di luar dengan mobil yang lain.

Setelah dibawa berputar-putar, mereka diturunkan di tengah jalan (Jalan Sunter). Sebelum pulang, kawanan bandit sempat mengancam agar korban tidak melapor ke polisi karena identitasnya dipegang.
Tetapi kedua perempuan itu tetap melaporkan musibah yang baru dialaminya ke Polda Metro Jaya. Total kerugian keduanya sekitar Rp 10 juta, yaitu berupa uang tunai, HP, dan perhiasan yang dibawa.
Ternyata Ade dan Hilda tidak sendirian. Beberapa hari kemudian, nasib yang sama dialami Nova Anita (39). Ibu dua anak yang tinggal di Jalan Sunan Demak 16 Rawamangun, Jakarta Timur, itu kehilangan dua cincin emas, jam tangan, HP Sony Ericson W900, ATM, dan tiga kartu kredit.

Malam itu, sekitar pukul 20.30 WIB, ia hendak pulang ke rumahnya setelah menemui rekan bisnisnya di Jalan Matraman, Jakarta Timur. Nova naik taksi di depan Hotel Sentral, Jalan Pramuka, Jakarta Timur.
Ia naik taksi yang berhenti di depannya. Ia tidak menaruh curiga mengingat kondisi taksi bagus dan dilengkapi dengan atribut resmi. Tapi suasana malam hari menjadikan Nova tak sempat mengingat nama perusahaan taksi tersebut.

Sopir taksi segera meluncur ke arah timur Jakarta, seperti yang diminta. Sesampainya di Jalan A Yani, tiba-tiba sopir berhenti. Bersamaan dengan itu dua laki-laki tak dikenal cepat masuk ke dalam taksi dari dua arah berbeda.
Nova disekap mulutnya. Korban ditodong dengan pisau lipat dan minta ibu muda itu menyerahkan harta yang dibawa. Singkatnya, aksi perampokan berjalan mulus tanpa perlawanan dan korban ditinggal begitu saja di jalan.
Tiga Terungkap

Dua kasus tersebut menambah panjang daftar aksi kejahatan di dalam taksi di Jabotabek. Menurut catatan Polda Metro Jaya, dalam tiga bulan terakhir telah terjadi enam kasus perampokan di dalam taksi. Dari berbagai kasus itu, baru tiga kasus yang terungkap.

Dari sejumlah kasus, tim Jatanras Polda Metro sempat membuat analisis terhadap tren kejahatan taksi. Kasat Jatanras Polda AKBP Fadil Imron mengatakan, kebanyakan kasusnya terjadi di kawasan segitiga emas Jakarta pada jam pulang kantor (sore-malam). Pelaku cenderung memilih karyawati dan ibu-ibu muda sebagai korbannya.

Kemudian, ciri-ciri taksi yang digunakan aksi kejahatan yaitu nomor pintu diberi gemuk agar tidak jelas, kaca riben (gelap), dan biasanya taksi tarif lama.
Modus kejahatan, pelaku biasanya berkomplot antara 3 hingga 5 orang. Mereka menyewa dua taksi, satu digunakan untuk mencari mangsa (korban) dan satu taksi lagi mengikuti dari belakang.
Sebelum menjalankan aksinya, biasanya sopir melakukan hal-hal yang tidak lazim. Seperti pura-pura berhenti untuk buang air, membenarkan sepatu, membeli minuman di warung, pura-pura mogok atau lampu mati. Setelah itu, kawanan yang membuntuti beraksi masuk ke dalam taksi dan menodong korbannya.

Menanggapi maraknya kejahatan taksi, Polda Metro Jaya telah melakukan upaya maksimal dalam rangka memerangi penjahat taksi. Kabid Humas Polda Metro Kombes Untung Yoga mengatakan, pihaknya sudah mengeluarkan rekomendasi untuk para operator taksi agar memperhatikan standardisasi keamanan dan keselamatan penumpang taksi.

Ketentuan penggunaan kaca film harus sesuai aturan (tidak terlalu gelap dan bisa dilihat dari luar), setiap taksi harus membuat sekat antara bagasi dan tempat penumpang, setiap taksi harus mempunyai sestem alarm dan diaktifkan. Dilengkapi dengan global positioning system (GPS), harus ada penertiban warna dan simbol taksi, memperketat perekrutan pengemudi taksi, membuat program kerja sama dengan polisi untuk melakukan razia. (Sadono Priyo)



Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i

Tidak ada komentar: