Permasalahan sampah di Indonesia ibarat sebuah bom waktu. Seluruh tempat pembuangan akhir (TPA), baik di kota maupun di desa, sewaktu-waktu bisa meledak karena tak kuasa menampung kotoran yang kian hari terus menumpuk itu. Tragedi Leuwigajah pada 2005 yang menewaskan 147 orang, disusul kasus Bantar Gebang pada 2006 yang mengakibatkan 3 orang tewas, merupakan contoh bom waktu yang setiap saat bisa meledak di tiap TPA.
"Kalau diibaratkan penyakit kanker, masalah sampah di negeri kita sudah mencapai stadium lima. Sangat kronis! Sulit disembuhkan kalau tidak ada kesadaran masyarakat dan political will pemerinah," kata Ir Sri Bebassari MSi dari Pusat Pengembangan Riset Sampah Indonesia di sela-sela Workshop tentang Sampah yang diadakan Sameko di Sheraton Media, Jakarta Pusat, baru-baru ini.
Minimnya kesadaran masyarakat dan pemerintah karena belum ditinggalkannya paradigma lama, yaitu lebih suka membuang dan mengangkut sampah ke TPA. Meski cara open dumping ini tak lagi dibenarkan, faktanya kebanyakan masyarakat masih menyukainya. Atau, dengan kata lain, baik pemerintah maupun masyarakat, terkesan tidak mau repot.
Sejak UU No 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah diundangkan, paradigma seperti itu harus dihilangkan. Sampah tidak lagi dibuang, tapi harus dikelola.
"Pemerintah wajib memfasilitasi masyarakat untuk mengelola sampah di wilayahnya masing-masing," kata Tri Bangun Laksana, Asisten Deputi pada Kementerian Negara Lingkungan Hidup yang juga salah seorang penggagas UU No 18 Tahun 2008.
Konsekuensi terbitnya undang-undang ini adalah warga masyarakat wajib mengubah cara pandang mereka dari membuang sampah menjadi mengolah sampah. Pendekatan yang digunakan pun diubah, yaitu mengurangi sampah, menggunakan kembali, dan mendaur ulang atau dikenal dengan pola pendekatan 3R (reduce, reuse, dan recycle). Nama TPA sendiri masih dipakai, hanya saja kepanjangannya diubah menjadi "tempat pemrosesan akhir".
Meski demikian, konsep 3R sebenarnya sudah dikembangkan sejak lama, jauh sebelum UU itu lahir. Dua komunitas masyarakat ini-yaitu Rumah Perubahan dan Kembang Mawar-mungkin bisa dijadikan contoh bagaimana masyarakat setempat bisa mengelola sampah yang tidak hanya menghasilkan keuntungan, tapi juga bisa membuat daerah sampah menjadi daya tarik untuk dikunjungi.
Barang Berguna
Rumah Perubahan yang berlokasi di Jati Murni, Pondok Gede, Bekasi, merupakan komunitas yang diprakarsai Rhenald Kasali dan Hidayat. Kedua tokoh ini berjuang keras menyosialisasikan pengolahan sampah sehingga masyarakat di setempat sadar untuk memanfaatkan sampah menjadi barang berguna.
Rhenald yang juga pakar pemasaran dari Universitas Indonesia itu membangun komunitas dengan pendekatan menghidupkan ekonomi rakyat. Pakar marketing yang pernah menimba ilmu di negeri Paman Sam itu melihat masalah sampah di Jati Murni bisa membahayakan. Padahal, di negara maju sampah bisa menghasilkan uang. Itulah yang ingin ditiru.
Rhenald dan Hidayat pun sejak dua tahun lalu melakukan pendekatan kepada masyarakat. Awalnya ajakan keduanya dicurigai oleh masyarakat. Tapi berkat kerja keras, masyarakat percaya dengan iktikad baiknya. Istri Rhenald yang ketua posyandu makin mempercepat pengembangan Rumah Perubahan itu.
Masyarakat Jati Murni diajak untuk bersih lingkungan dengan menyediakan tong-tong sampah. Tujuannya hanya satu, sampah itu bisa dikumpulkan dengan mudah.
"Pengalaman memang tidak pernah ada di bangku sekolah. Kalau sampah diambil dari bak sampah yang terbuat dari semen, kita membutuhkan waktu enam menit per bak sampah. Di sinilah pengalaman membuktikan, kita hanya butuh lima menit untuk mengangkut sampah dari 10 tong sampah dari 10 rumah warga," kata Rhenald.
Dari sampah itulah pemilahan dilakukan dengan teknologi sederhana. Sebagian sampah organik dijadikan pupuk kompos, sebagian lagi dipadatkan dalam bentuk batangan kecil menjadi briket, mirip briket batu bara. Keuntungan pun bisa diraih warga karena briket ini lebih murah dibandingkan dengan minyak tanah. Ke depan, briket bisa dijual seharga Rp 5.000 per bungkus (isi 5 kilogram).
Sementara itu, sampah non-organik dikeringkan. Kemudian dipadatkan dalam ukuran tertentu untuk dijadikan biomassa. Lumayan juga, biomassa ini sudah memiliki pasar tersendiri, yaitu pabrik semen untuk bahan bakar. Permintaannya sudah mencapai 300 ton per bulan.
Tentu tidak semua orang mau memakai pupuk kompos. Karena itulah, pupuk kompos digunakan untuk menyuburkan tanaman hias dan sayur-mayur. Konsep pemasaran menjadi kebutuhan sehingga kelak perkampungan di Rumah Perubahan akan dilengkapi menjadi pasar hasil pertanian (farmer's market).
Kini konsep menghidupkan ekonomi rakyat Rhenald diperluas dengan menciptakan kawasan wisata alam. Di dekat tempat pemasaran sayur-mayur, lahan yang semula semak belukar disulap menjadi lahan wisata alam. Tren wisata alam terbuka berbentuk outbound menjadi salah satu yang dibidik kaum muda. Tempat di situ juga dilengkapi sarana olahraga untuk menguji adrenalin flying fox.
"Impian saya memang menjadikan tempat ini dimanfaatkan untuk wisata, seperti lintas alam, memancing, menanam padi, menangkap ikan," kata Rhenald, yang mengaku banyak anggota karang taruna membantu kegiatannya.
Ini tak berbeda jauh dengan komunitas Kembang Mawar atau Kebersamaan Membangun Masyarakat Warakas. Komunitas peduli lingkungan di Kelurahan Warakas itu bisa menyulap Warakas yang gersang menjadi ijo royo-royo. Kelurahan ini pun sering menyandang juara dan berulang kali memperoleh penghargaan.
Tak ada yang mengira Warakas yang dulu kumuh dan penduduknya padat itu kini menjadi daerah tujuan orang untuk belajar soal mengelola sampah. Penduduk yang padat menghasilkan sampah yang banyak pula. Itulah karenanya Kembang Mawar melatih warganya untuk memilah-milah sampah (organik, non-organik, dan limbah) dan menjadikannya barang berguna.
"Kepadatan penduduk bukan dijadikan alasan untuk sulit mengatur warga," kata Eko Suratmo (60), Ketua RW 11, penuh optimistis. Berkat tangan dinginnya, masing-masing RW di Warakas punya lokasi pengelolaan sampah lengkap dengan mesin pengelolaannya. Eko Suratmo pun dijuluki sebagai Bapak Sampah karena kepeduliannya terhadap masalah sampah. (Sadono Priyo)
"Kalau diibaratkan penyakit kanker, masalah sampah di negeri kita sudah mencapai stadium lima. Sangat kronis! Sulit disembuhkan kalau tidak ada kesadaran masyarakat dan political will pemerinah," kata Ir Sri Bebassari MSi dari Pusat Pengembangan Riset Sampah Indonesia di sela-sela Workshop tentang Sampah yang diadakan Sameko di Sheraton Media, Jakarta Pusat, baru-baru ini.
Minimnya kesadaran masyarakat dan pemerintah karena belum ditinggalkannya paradigma lama, yaitu lebih suka membuang dan mengangkut sampah ke TPA. Meski cara open dumping ini tak lagi dibenarkan, faktanya kebanyakan masyarakat masih menyukainya. Atau, dengan kata lain, baik pemerintah maupun masyarakat, terkesan tidak mau repot.
Sejak UU No 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah diundangkan, paradigma seperti itu harus dihilangkan. Sampah tidak lagi dibuang, tapi harus dikelola.
"Pemerintah wajib memfasilitasi masyarakat untuk mengelola sampah di wilayahnya masing-masing," kata Tri Bangun Laksana, Asisten Deputi pada Kementerian Negara Lingkungan Hidup yang juga salah seorang penggagas UU No 18 Tahun 2008.
Konsekuensi terbitnya undang-undang ini adalah warga masyarakat wajib mengubah cara pandang mereka dari membuang sampah menjadi mengolah sampah. Pendekatan yang digunakan pun diubah, yaitu mengurangi sampah, menggunakan kembali, dan mendaur ulang atau dikenal dengan pola pendekatan 3R (reduce, reuse, dan recycle). Nama TPA sendiri masih dipakai, hanya saja kepanjangannya diubah menjadi "tempat pemrosesan akhir".
Meski demikian, konsep 3R sebenarnya sudah dikembangkan sejak lama, jauh sebelum UU itu lahir. Dua komunitas masyarakat ini-yaitu Rumah Perubahan dan Kembang Mawar-mungkin bisa dijadikan contoh bagaimana masyarakat setempat bisa mengelola sampah yang tidak hanya menghasilkan keuntungan, tapi juga bisa membuat daerah sampah menjadi daya tarik untuk dikunjungi.
Barang Berguna
Rumah Perubahan yang berlokasi di Jati Murni, Pondok Gede, Bekasi, merupakan komunitas yang diprakarsai Rhenald Kasali dan Hidayat. Kedua tokoh ini berjuang keras menyosialisasikan pengolahan sampah sehingga masyarakat di setempat sadar untuk memanfaatkan sampah menjadi barang berguna.
Rhenald yang juga pakar pemasaran dari Universitas Indonesia itu membangun komunitas dengan pendekatan menghidupkan ekonomi rakyat. Pakar marketing yang pernah menimba ilmu di negeri Paman Sam itu melihat masalah sampah di Jati Murni bisa membahayakan. Padahal, di negara maju sampah bisa menghasilkan uang. Itulah yang ingin ditiru.
Rhenald dan Hidayat pun sejak dua tahun lalu melakukan pendekatan kepada masyarakat. Awalnya ajakan keduanya dicurigai oleh masyarakat. Tapi berkat kerja keras, masyarakat percaya dengan iktikad baiknya. Istri Rhenald yang ketua posyandu makin mempercepat pengembangan Rumah Perubahan itu.
Masyarakat Jati Murni diajak untuk bersih lingkungan dengan menyediakan tong-tong sampah. Tujuannya hanya satu, sampah itu bisa dikumpulkan dengan mudah.
"Pengalaman memang tidak pernah ada di bangku sekolah. Kalau sampah diambil dari bak sampah yang terbuat dari semen, kita membutuhkan waktu enam menit per bak sampah. Di sinilah pengalaman membuktikan, kita hanya butuh lima menit untuk mengangkut sampah dari 10 tong sampah dari 10 rumah warga," kata Rhenald.
Dari sampah itulah pemilahan dilakukan dengan teknologi sederhana. Sebagian sampah organik dijadikan pupuk kompos, sebagian lagi dipadatkan dalam bentuk batangan kecil menjadi briket, mirip briket batu bara. Keuntungan pun bisa diraih warga karena briket ini lebih murah dibandingkan dengan minyak tanah. Ke depan, briket bisa dijual seharga Rp 5.000 per bungkus (isi 5 kilogram).
Sementara itu, sampah non-organik dikeringkan. Kemudian dipadatkan dalam ukuran tertentu untuk dijadikan biomassa. Lumayan juga, biomassa ini sudah memiliki pasar tersendiri, yaitu pabrik semen untuk bahan bakar. Permintaannya sudah mencapai 300 ton per bulan.
Tentu tidak semua orang mau memakai pupuk kompos. Karena itulah, pupuk kompos digunakan untuk menyuburkan tanaman hias dan sayur-mayur. Konsep pemasaran menjadi kebutuhan sehingga kelak perkampungan di Rumah Perubahan akan dilengkapi menjadi pasar hasil pertanian (farmer's market).
Kini konsep menghidupkan ekonomi rakyat Rhenald diperluas dengan menciptakan kawasan wisata alam. Di dekat tempat pemasaran sayur-mayur, lahan yang semula semak belukar disulap menjadi lahan wisata alam. Tren wisata alam terbuka berbentuk outbound menjadi salah satu yang dibidik kaum muda. Tempat di situ juga dilengkapi sarana olahraga untuk menguji adrenalin flying fox.
"Impian saya memang menjadikan tempat ini dimanfaatkan untuk wisata, seperti lintas alam, memancing, menanam padi, menangkap ikan," kata Rhenald, yang mengaku banyak anggota karang taruna membantu kegiatannya.
Ini tak berbeda jauh dengan komunitas Kembang Mawar atau Kebersamaan Membangun Masyarakat Warakas. Komunitas peduli lingkungan di Kelurahan Warakas itu bisa menyulap Warakas yang gersang menjadi ijo royo-royo. Kelurahan ini pun sering menyandang juara dan berulang kali memperoleh penghargaan.
Tak ada yang mengira Warakas yang dulu kumuh dan penduduknya padat itu kini menjadi daerah tujuan orang untuk belajar soal mengelola sampah. Penduduk yang padat menghasilkan sampah yang banyak pula. Itulah karenanya Kembang Mawar melatih warganya untuk memilah-milah sampah (organik, non-organik, dan limbah) dan menjadikannya barang berguna.
"Kepadatan penduduk bukan dijadikan alasan untuk sulit mengatur warga," kata Eko Suratmo (60), Ketua RW 11, penuh optimistis. Berkat tangan dinginnya, masing-masing RW di Warakas punya lokasi pengelolaan sampah lengkap dengan mesin pengelolaannya. Eko Suratmo pun dijuluki sebagai Bapak Sampah karena kepeduliannya terhadap masalah sampah. (Sadono Priyo)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar